First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

BUNGA RANDA TAPAK (Dandelion sibunga terbang)

Melankolis. Satu kata yang tepat untuk menggabarkan Bastian. Tekun, perasa, serius dan perfeksionis.  Lelaki dengan perawakan tinggi  dsan kurus ini memiliki Jari-jari paling ajaib dimata Ratna. Jemari Bastian selalu bisa membuat mata Ratna tak  berkedip, memperhatikan Bastian melukis diatas kanvas putih. Sering kali LRatna tertangkap basah oleh Bastian karena sedang memperhatikan apa yang sedang  Ia lukis. Ratna hanya bisa bergeming, Ia hanya bisa tersenyum, dan Bastian akan terus melanjutkan lukisannya sambil tertawa kecil. Mereka adalah sahabat sejak kecil. Mereka juga bertetangga dan bersersekaoalh ditempat yang sama.

Saat masa kecil Ratna senang bermain sendirian ditaman yang banyak ditumbuhi bunga-bunga Randa Tapak atau populernya bunga Dandelion. Sambil menari-nari dan mencabuti si bunga terbang dan meniupi bunganya sehingga bunga-bunga akan berterbangan tertiup angin. Bastian tiba-tiba datang menghampiri Ratna dan menunjukan gambar yang dilukis menggunakan crayon di buku gambarnya kepada Ratna. Ratna terkagum-kagum, gamabar itu  adalah gambar dirinya yang sedang meniup Dandelion sibunga terbang sambil menari-nari ditaman dengan hembusan angin dimusim bunga bermekran.

“ Oh, ya !! ternyata kamu memakai anting-anting !, aku harus menggabarnya disini, “ kata Bastian. Kemudia Ia pun membuka katak crayon dan mulai mencorat coretkan crayonnya diatas buku gambarnya untuk melukis ating-anting yg dipakai Ratna. Sejak saat itu mereka menjadi teman akarb yg mengenal satu sama lain.

 

****

Hari minggu yang cerah Ratna sedang bermain ke rumah Bastian , membatu Bastian membereskan dah menata ruang tempat Bastian menyimpan semua hasil karya lukisannya. Hari sudah sore, tetapi mereka masih sibuk menata ruang yang mereka sebaut sebagai ruang imajinasi. Ruaang ini berada diatas loteng rumah Bastian. Ratna menyimpan selo, alat musik kesayangannya diruang imajinasi ini. Sesekali mereka berdua berada diruang imajinasi itu, Bastian sibuk dengan mancari inspirasi untuk lukisannya , sedang Ratna akan bermain selo untuknya.

Bastian adalah remaja berbeda dari kebanyakan remaja lainnya yang senang menghabiskan waktunya dengan bermain bola, sketboard, main game atau main band. Beda dengan Bastian yang lebih banyak menghabiskan waktunya dihadapan kanvas untuk menuangkan inspirasi dan imajinasinya dalam lukisan-lukisan. Terkadang Ratna senang mengajak Bastian ke suatu tempat yang dapat manambah inspirasinya dalam lukisannya.

Setelah selesai merapihkan ruang imajinasinya Bastian berkata, “Ratna, apa kau mau aku bawakan minuman ? , kau terlihat kepanasan .” Sekarang sedang musim panas, yang membuat ruang imajinasi mereka yang berada diloteng juga terasa pengap. Ini membuat tubuh Ratna terlihat basah dan kelelahan. “ Tidak , terima kasih Bastian. Lagipula sepertinya aku harus segera pulang, karena sudah sore. Ibu ku pasti sendang menungguku dirumah,” jawab Ratna.

Ratna tiba-tiba mengambil kertas dari saku celananya dan memberikannya ke Bastian, “ Kau harus ikut ini, Bastian.”  Kata Ratna. Kertas itu adalah brosur dari sebuahlomba seni, khusus melukis  dari sebuah sanggar seni ternama.

“ Entahlah,  aku masih ragu. Nanti aku pikirkan dulu. Terima kasih Ratna, “ jawab Bastian.

“ Baiklah,  semoga keputusanmu nanti itu yang terbaik, sampai jumpa.” Ratna berkata sambil pergi meninggalkan Bastian.

Ratna tidak langsung pulang kerumah, Ia mampir dulu ke toko milik ibu Nani. Toko itu adalah toko langganan Bastian untuk berbelanja keperluan untuk melukis. Toko ibu Nani cukup lengkap menyediakan peralatan untuk melukis, semua kebutuhan Bastian tersedia disana. Ratna sengaja datang ke toko ini  untuk mencari hadiah khusus yang sudah ia pesan pada ibu Nani. Bastian besok akan berulang tahun, walaupun sepertinya Bastian lupa akan hari ulang tahunnya.

“ Sore, Ratna. Kau pasti mau mengambil pesanan mu ya.” Tanya ibu Nani

“ Sore juga ibu Nani. Ya aku mau mengambil pesana kemarin, karena aku sudah tidak sabar mau melihat nya,” kata Ratna. Segera ibu Nani mengambil barang pesana nya Ratna dan memberikannya kepada Ratna.  “ Ini sangat cocok untuk Naoh. Aku yakin Naoh pasti suka,” kata ibu Nani sambil menunjukan sebuah kotak yg berisi cat air warna-warna pastel.

Ini bagus sekali, ibu Nani. Aku yakin Bastian pasti akan suka,” kata Ratna sambil tersenyum.

“ Baiklah, anggap saja ini hadia dariku untukmu. “ ibu Nani menyerahkan kotak tersebut pada Ratna.

oh!! Terima kasih!!, Bastian pasti akan sangat suka  bereksperiman dengan warna-warna ini, “ Ratna kegirangan.

Cat ini baru datang tadi pagi, aku yakin Bastian belum pernahmelihatnya di toko ini. Lagi pula aku juga tidak akan menjualanya kepada siapapun. Terlalu bagus untuk toko kecilku ini.” Ibu Nani tersenyum.

“ Ibu terlalu baik, terima kasih banyak,” Ratna berkata sambil memeluk ibu Nani. Ratna lalu meninggalkan toko ibu Nani. Senyum diwajah Ratna pun mengembang.

Malam ini Ratna harus berlatih selo bersama ibunya distudio khusus yang dibuat dirumahnya. Besok adalah hari besar. Selain ulang tahun Bastian, besok juga akan tampil pada konser musik klasik yang terkenal di kotanya. Fajar mulai menyingsing. Burung-burung mulai berkicau. Ratna tebangun dalam posisi masih memegang selonya. Saking kerasnya berlatih, Ia sampai tertidur dalam studionya malam itu. Karena sadar hari ini adalah hari besar. Setelah selesai bersih-bersih, Ratna segera bergegas pergi kerumah Bastian dengan membawa hadiah yang Ia sudah bungkus rapih.

Sesampai dirumah Bastian, Ratna disambut ibu Bastian. Ia bilang Bastian sedang berada diruang imajinasinya, Ratna kemudian bergegas naik keruang imajinasi itu.

“ Pagi, Naoh.! Selamat ulang tahun ya. Kamu sekarang sudah berusia enam belas tahun. Wah sekarang kamu sudah mulai dewasa, sapa Ratna sambil member salam dan menyerahkan kado yang Ia bawa.

Ya ampun, Ratna.! Terima kasih.! Aku saja tidak ingat hari ini hari ulang tahunku.” Bastian menerima kado itu dan memeluk Ratna. Ratna senang melihat Bastian gembira.

Hari ini mereka menghabiskan waktu bersama di ruang imajinasinya. Bastian melukis sedangkan Ratna menghibur dengan suara selonya. Tak terasa siang berganti sore. Bastian menganterkan Ratna pulang kerumahnya untuk bersiap-siap mengikuti konsernya. Setelah segalanya dipersiapkan, Ratna berangkat bersama Bastian dan ibunya. Mala mini Ratna mengenangkan gaun merahnya, tercilah anggun dan cantik. Sepadan dengan Bastian yang menggunakan jas hitamnya.

Tibalah saatnya Ratna untuk tampil pada konser musik klasik, ia berdiri dipanggung, kemudian Ia merasa gugup. Ia mencari-cari Bastian dibarisan penonton. Ketika sdh meliha dan Bastian memberikan senyum, Ratna baru merasa tenang.

Musikpun mulai dimainkan. Ratna memeinkan selonya dengan penuh penghayatan, seakan-akan musik itu adalah jiwanya. Bastian masih tersenyum lebar, Ia bangga pada Ratna. Setelah musik selesai, semua orang berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.

 

****

Hari demi hari berlalu. Bastian akhirnya memutuskan untuk mengikuti lomba melukis itu. IA menang. Ratna memang sudah memperkirakan sebelumnya. Bastian melukis Ratna yang sedang main selo diatas panggung dengan gaun merahnya dengan rambut panjang yang hitam berkilau juag dilukis indah olah Bastian.

 

****

Tahun berlalu begitu cepat, tak terasa mereka berdua sudah beranjak dewasa.  Suatu hari Ratna mendapat kabar gembira dari sekolah musik paling terkenal dinagara benua eropa. Ratna mendapat beasiswa penuh untuk belajar musik klasik khusus alat musik selo. Ratna pernah coba mendaftar via internet dan tak menyangka mendapat sambutan baik.  Karena ini adalah impiannya , dengan berat hati Ratna harus meninggalkan kota, Negara dan orang yg ia kasihi tuk menuntaskan sekolah musik di luar negeri.

Jaga dirimu baik-baik. Aku yakin suatu hari nanti km akan menjadi selois hebat, dan kamu bisa meraih impianmu untuk bisa tampil dalam konser solomu sendiri. Walaupun  mungkin aku nanti tidak bisa berada disana tuk melihat mu,” kata Bastian sambil mengantarkan Ratna ke bandara.

Ucapan Bastian seperti menusuk ulu hatinya, Ia sangat sedih dan ari matanya tidak terbendung lagi, menetes perlahan dipipinya.

Kamu juga akan menjadi pelukis yang hebat, Bastian. Aku yakin itu dan kita akan bertemu lagi. Kamu jangan pergi kemana-mana.” Kata Ratna sambil memeluknya.

“ Aku tidak akan kemana-mana, Ratna. Kota ini rumahku, rumahmu juga. Ku harap nanti kamu akan pulang ke rumah.”. setelah bebrapa saat Ratna melepaskan pelukannya. Lalu Bastian memberikan sebuah lukisannya kepada Ratna. Lukisan itu adalah lukisan yang membuat Bastian memenangkan lomba lukis yang pertamanya. Lukisan saat Ratna berada diatas panggung dengan gaun merahnya sedang memainkan selonya.

“ Untuk mengingat ku. Semoga beruntung disana.” Kata Bastian.

Ratna tersenyum walaupun matanya masih sembab.

 

****

Empat tahun sudah berlalu. Ratna sdh menyelesaikan sekolah musiknya,  Ia memutuskan untuk kembali ke negaran asalnya. Ia rindu akan keluarga, sahabat dan kotanya dan berharap segera bisa bertemu dengan Bastian, namun Ia mendapat berita buruk kalau Lelaki sahabatnya yang memiliki jari paling hebat dimata Ratna, kini telah tiada.

Bastian meninggal dalam insideh kebakaran rumahnya. Kini Ratna berdiri didepan rumah sahabatnya Bastian, yang sdh luluhlantah menjadi puing-puing hitam. Ruang imajinasi itu sudah musnah, bersama seluruh karya dan kenangan-kenagna Ratna dan Bastian di ruang itu. Ratna tersimpuh lemah, Ia merasa sangat hancur, Ia melihat bunga-bunga Randa tapak , dandelion sibunga terbang yang melayang bersama abu rumah Bastian.

Bastian lelaki yang senang melihat Ratna menari-nari dan meniup bunga randa tapak  , dandeliaon si bunga terbang, bertebaran melayang di musim bunga, kini telah tiada.

“Selamat jalan Naoh, semoga kamu mendapatkan kebahagian yang abadi disisi Sang Pencipta.”